Senin, 27 April 2009

I. SILSILAH PAKSI BUAY BEJALAN DIWAY SEKALA BRAK


DIANDRA TAURUSSIAWAN PUTRA NATAKEMBAHANG

SILSILAH PAKSI BUAY BEJALAN DIWAY

  1. Umpu Bejalan Diway, Beliau adalah Pendiri Paksi Buay Bejalan Diway memerintah dan dimakamkan di Puncak, Sukarami Liwa
  2. Ratu Tunggal, memiliki tiga orang anak
  3. Kun Tunggal Simbang Negara, bersaudara dengan Menang Pemuka yang bergelar Ratu Dipuncak yang kemudian pindah ke Bukit Kemuning dan menurunkan jurai Abung. Ratu Dipuncak memiliki empat orang putra yaitu Unyi, Unyai, Subing dan Nuban yang merupakan keturunan Paksi Buay Bejalan Diway serta lima Marga lainnya yaitu Anak Tuha, Selagai, Beliyuk, Kunang dan Nyerupa yang merupakan keturunan dari tiga Paksi lainnya sehingga menjadi Abung Siwo Mego.
  4. Ratu Mengkuda Pahawang, memiliki tiga orang anak
  5. Puyang Rakian, dua orang saudaranya yaitu Puyang Naga Brisang menurunkan jurai Pakuan Ratu Way Kanan dan Puyang Rakyan Sakti yang menurunkan Marga Ngambur
  6. Puyang Raja Paksi, memiliki dua orang saudara
  7. Dalom Sangun Raja,
  8. Raja Junjungan, beliau memindahkan pusat pemerintahan dari Puncak Sukarami Liwa ke Negeri Ratu Kembahang. Raja Junjungan memiliki empat orang anak.
  9. Ratu Menjengau, memerintah dan dimakamkan di Negeri Ratu Kembahang. Tiga saudaranya yaitu Muda Pusaba Razil tinggal di Padang Dalom, Batin Pikulan Sanusi tinggal di Kesugihan Liwa, Pangeran Singa Juru menurunkan Marga Batang Ribu Ranau dan menjadi Pesirah di Jepara Ranau
  10. Pangeran Siralaga, memiliki tiga orang anak
  11. Dalom Suluh Irung, Istrinya dari Lamban Gedung Kenali Paksi Buay Belunguh anak dari Pangeran Jaya di Lampung. Dua Saudaranya yang lain yaitu Radin Bangsawan tinggal dan menjadi Dalom di Merpas Bengkulu Selatan, Adipati Raja Ngandum terus ke Kubang Brak dan menurunkan Jurai Sanggi Semaka.
  12. Pangeran Nata Marga, pernah mengadakan perjanjian dengan Inggris pada13 Maret 1799. Saudaranya Raja Alam Tegi Bunak tinggal dan menjadi Dalom di Kalianda.
  13. Pangeran Raja di Lampung, tidak pernah jadi pasirah. Saudaranya yaitu Raja Petani adalah Jurai Lamban Balak Negeri Ratu Kembahang.
  14. Raden Intan Gelar Pangeran Jaya Kesuma I, menjadi Pesirah dengan Besluit Tertanggal 21 Des 1834. Pangeran Jaya Kesuma memiliki tiga orang Putera.
  15. Kasim Gelar Pangeran Paku Alam, menjadi Pesirah dengan Besluit tertanggal 1 Agustus 1871. Dua Saudaranya yaitu Radin Mulya yang merupakan Jurai Lamban Bandung, Negeri Ratu Kembahang dan Zanurin Raja Syah yang tinggal di Kesugihan Baru.
  16. Dalom Raja Kalipah Gelar Pangeran Puspa Negara I, menjadi Pesirah dengan Besluit tertanggal 5 Mei 1881. Saudara dari Pangeran Puspa Negara I adalah Radin Ngambapang, Radin Nurjati, Maulana Bahuan, Harmain Gedung Tukas dan Narsyiah yang menjadi Ratu Marga Ngambur. Istri Pangeran Puspa Negara I dari Pedada Krui dan memiliki enam orang anak.
  17. Ahmad Siradj Gelar Pangeran Jaya Kesuma II, menjadi Pesirah dengan Besluit tertanggal 27 Oktober 1914. Istri dari Pangeran Jaya Kesuma II adalah anak dari Pangeran Haji Habiburrahman, Paksi Buay Pernong.
  18. Siti Asma Dewi Gelar Ratu Kemala Jagat, karena Ratu Kemala Jagat adalah seorang Wanita maka yang memerintah sebagai Suntan Paksi dan Pesirah adalah Suaminya yaitu Abdul Madjid Gelar Suntan Jaya Indra yang menjadi Pesirah dengan Besluit tertanggal 12 Juli 1939. Suntan Jaya Indra merupakan anak dari Pangeran Indra Natadisukau, Paksi Buay Nyerupa.
  19. Azrim Puspa Negara Gelar Pangeran Jaya Kesuma III.
  20. Selayar Akbar

Kembahang, Agustus 1984


Darwis H.A.

II. TAMBO PAKSI BUAY BEJALAN DIWAY SEKALA BRAK

DIANDRA TAURUSSIAWAN PUTRA NATAKEMBAHANG


Tambo Paksi Buay Bejalan Diway dihimpunkan dari tambo tambo terdahulu, disalin dari dalung (tarikh yang ditulis pada tembaga/kuningan), tanduk kerbau dan kulit kayu.

ASAL USUL TURUNAN PAKSI PAK
DI SEKALA BRAK ABAD KE VII


Pasal I

Paksi Pak awal mulanya keluar dari Sahabat Nabi SAW ialah Saidina Usman di Makkah beranak tiga orang anak laki laki. Yang tertua laki laki singgah di Negeri Rum, yang kedua singgah di negeri Cina dan yang terakhir bernama Sultan Zulkarnain.

Sultan Zulkarnain mempersunting Tuanku Gadis menjadi permaisuri dan memiliki keturunan dua orang anak laki laki , yang tua dinamakan Saiy Sahalan dan yang muda dinamakan Tuanku Mengindar Alam. Setelah dewasa Tuanku keduanya mengambil permaisuri pula dan setelah sampai masanya kedua permaisuri itu hamil pula dan melahirkan masing masing berputra dua orang anak laki laki. Keempat putra dinamakan Tuanku dan Tuanku keempatnya berputra pula masing masing 3 orang anak laki laki sehingga menjadi 12 orang kesemuanya.

Pasal 2

Adapun cucu tertua dari keturunan lurus Sultan Zulkarnain memiliki putra tiga orang yang kesemuanya menjadi Raja, yang pertama tetap tinggal di Pagaruyung dan meneruskan jurai menjadi Raja di Kerajaan Pagaruyung, Tuanku yang kedua ke Muko Muko dan menjadi Raja pada Kerajaan Silebar, sedangkan Tuanku yang terakhir terus ke Sekala Brak yang bernama Umpu Ngegalang Paksi.

Umpu Ngegalang Paksi berputra delapan orang, yang masing masing ialah:

  1. Umpu Bejalan Diway

  2. Umpu Nyerupa

  3. Umpu Belunguh

  4. UmpuPernong

  5. Sitambabuka

  6. Sikumabagh

  7. Sigeghok

  8. Sipetagh

Kira-kira 12 tahun keluar itu maka pada suatu ketika dengan kodrat Alloh SWT seru sekalian alam, maka Tuanku Tuanku itu sampai di Sekala Brak.

  1. Umpu Buay Bejalan Diway di Puncak, Sukarami Liwa

  2. Umpu Buay Nyerupa di Tampak Siring, Sukau

  3. Umpu Buay Pernong di Hanibung, Batu Brak

  4. Umpu Buay Belunguh di Barnasi, Kenali

Pasal 3

Tuanku Tuanku sesudah sampai di Sekala Brak maka keempatnya bernazar kepada Allah SWT, masing masing dari nazar keempat Umpu ialah sebagai berikut:

  1. Umpu Bejalan Diway bernazar menjadi seorang Raja yang berkuasa dan gagah berani, satu banding seratus orang.

  2. Umpu Nyerupa bernazar menjadi Raja dengan banyak hamba rakyatnya dan memiliki kesaktian.

  3. Umpu Belunguh bernazar menjadi Raja yang banyak harta bendanya dan kaya raya.

  4. Umpu Pernong bernazar menjadi Raja tetap dalam kerajaan cerdik pandai.

  5. Sedangkan Umpu Buay Benyata tidak bernazar karena memang anak mentuha yang tiada berdiri Paksi dan hanya untuk menyimpan harta kebesaran dan benda pusaka dari keempat Paksi yang tersebut tadi.

Kemudian lebih kurang satu tahun lamanya di Sekala Brak datanglah seorang gadis dari sebelah matahari terbit namanya si Bulan, rupanya dia datang itu membawa kemashulan dan kesusahan hingga datang mendapatkan Empat Paksi itu serta dia bersusah payah mengurus makan minum Empat Paksi di Sekala Brak.

Menimbang susah payah gadis yang bernama si Bulan itu maka Empat Paksi tersebut berpikir masing-masing katanya, apakah pembalasan kami melainkan kami angkat menjadi saudara bersama hidup dan mati, manis pahitnya bersama sama.

Pasal 4

Pekerjaan Empat Paksi pertama kali di Sekala Brak, syahdan setelah tetap segala nazar dan cita-cita empat umpu tadi dan si Bulan telah tetap menjadi saudara oleh keempat umpu maka kami bermufakat dan bersiap akan mengusir Suku Tumi, Suku Tumi adalah sebangsa penyembah jin dan dewa. Maka pada saat yang baik Kami coba menaklukkan bangsa tersebut, sebab menurut warta orang bahwa di tempat itu ada sesuatu barang yang dikunjungi atau dipuja-puja oleh Bangsa Tumi yang mereka anggap sebagai kebesaran untuk bangsa itu.

Maka pada keesokan harinya Kami pukullah genderang perang maka keluarlah Bangsa Tumi itu. Setelah itu maka Kami berperanglah dengan sangat hebatnya, tangkis menangkis, kejar mengejar hingga kami sampai di tempat kebesaran itu yang dikunjungi oleh para pemuja dari bangsa itu. Kemudian Kami rampas barang-barang itu sekuat kuatnya tenaga Kami maka barang itu dapat kami rampas dari Bangsa Tumi sehingga mereka itu berlarian tiada berketentuan perginya bercerai berai dan perang pun selesailah.

Pasal 5

Sesudah selesai dari peperangan maka huru hara tiada lagi bertukar dengan aman. Kami periksa barang kebesaran yang dikunjungi dan dipuja oleh Bangsa Tumi itu yaitu didapat satu batang kayu dinamakan oleh bangsa itu “Belasa Kepampang”. Adapun sifatnya kayu itu akarnya keatas dahannya kebawah masuk dalam tanah dan kayu tersebut berdahan sebukau jadi kayu itu dua macam dahannya.

Kemaksiatan itu kayu apabila dimakan buahnya atau daunnya niscaya mati dan apabila tersinggung getahnya terus terasa bengkak atau bisul besar ialah obatnya pula apabila diambilkan dahannya yang bernama Sebukau itu digosokkan atau dimakan ia menjadi baik dan menjadi obatnya. Maka itu Kami empat saudara timbang menimbang akan dibuat apa supaya boleh menjadi lama sampai kepada anak cucu. Maka kami ambil dan terus dijadikan “Pepadun” menjadi kebesaran sehingga sampai anak cucu dibelakang hari sehingga menjadikan kayu Belasa Kepampang itu menjadi Pepadun atas perkumpulan.

Pasal 6

Adapun sekiranya ada orang akan minta kepada Paksi, kebesaran Adat Lampung boleh dikasih oleh Paksi tetapi menurut jenjang adat dan nanti diterangkan juga atas izin dari Paksi. Adapun Pepadun Belasa Kepampang diserahkan oleh Umpu yang keempatnya ditangan Umpu Buay Benyata di Luas untuk menyimpan Pepadun dengan baik sehingga sampai pada anak cucunya dan lagi Pepadun ini menjadi Pusaka Empat Paksi gilir menggilir sehingga zaman yang penghabisan.

Adapun Umpu Empat Paksi ini telah duduk masing masing disinggasananya yaitu :

  1. Umpu Bejalan Diway berkuasa di Paksi Buay Bejalan Diway dan memerintah di Puncak Dalom.

  2. Umpu Nyerupa berkuasa di Paksi Buay Nyerupa dan memerintah di Tampak Siring.

  3. Umpu Belunguh berkuasa di Paksi Buay Belunguh dan memerintah di Barnasi.

  4. Umpu Pernong berkuasa di Paksi Buay Pernong dan memerintah di Hanibung.

  5. Umpu Benyata di Luas namun tidak memiliki daerah kekuasaan karena tidak menjadi Paksi.

  6. Si Bulan tinggal di Cenggiring Way Nerima namun Si Bulan berpindah dan keluar dari Sekala Brak.

  7. Sedangkan Sitambabuka, Sikumabagh, Sigeghok dan Sipetagh berjalan mencari penghidupannya kesebelah matahari terbit.

  8. Adapun Empat Paksi ini mempunyai kalam namanya Singga Ranau dan pusaka yang disebut Cambai Mak Bejunjungan yang bertempat di Pekon Teratas Kembahang.

Pasal 7

Adapun Jolak Empat Paksi ini yaitu Pangeran, Sultan, Dalom, Raja. Sedangkan Jolak yang perempuannya yaitu Ratu, Batin. Yang dinamakan Paksi yaitu turunan dari pada Umpu Yang Empat yaitu anak dari Ratu yang tertua.


Adapun tutur turunan Paksi itu kepada orang tuanya yang lelaki Akan dan tuturnya kepada ibunya adalah Incik, tutur orang banyak kepada Empat Paksi Akan dan tuturan Ratu kepada yang perempuan, tuturan kepada anaknya Ratu, Peniakan Ratu. Menurut adat tuturan anak anak orang lain kepada Paksi, Bapak Dalom dan Ina Dalom. Kepada Ratu yang laki-laki yang tua Pun kepada anak yang kedua Ngebatin/Atin. Nama rumah paksi Lamban Gedung atau Pakolom dan Bubungan rumah paksi Kawik Buntor tiada boleh seorang juapun yang memakainya.

Orang banyak boleh memakai bubungan atas kesukaannya asal saja jangan pakai Kawik Buntor yang ditetapkan untuk Paksi. Adapun duduknya Buay Benyata kepada Empat Paksi Anak Mentuha jika anak cucunya bimbang atau kauri menurut sepanjang adat Lampung dia musti campur dan ikut. Jika Paksi duduk maka Buay Benyata duduk disebelah kanan dan kalau paksi berjalan maka Buay Benyata dahulu didepan Penetap imboel dan tidak boleh memberi gelar seseorang seperti Radin, Minak, dan lain lain melainkan dengan izin Paksi.

Sehingga inilah pengaturan pengaturan paksi dan asal dan usul turunan, disusun dengan ringkas supaya mudah diketahui dari abad ke VII sampai sekarang ini.

Kembahang, 18 November 1938
De Pangiran Paksi Buay Bejalan Diway
Pasirah Kembahang
Afdeeling Krui


Ahmad Siradj
Gelar Pangeran Jaya Kesuma II

III. SEKALA BRAK, ETIMOLOGI DAN SEJARAH ULUN LAMPUNG

DIANDRA TAURUSSIAWAN PUTRA NATAKEMBAHANG

Sekala Brak
adalah sebuah kerajaan yang bercirikan Hindu dan dikenal dengan Kerajaan Sekala Brak Hindu yang setelah kedatangan Empat Umpu dari Pagaruyung yang menyebarkan agama Islam kemudian berubah menjadi Kepaksian Sekala Brak, terletak di kaki Gunung Pesagi (gunung tertinggi di Lampung) Yang menjadi cikal-bakal suku bangsa etnis Lampung saat ini.
yang letaknya di dataran Belalau, sebelah selatan Danau Ranau yang secara administratif kini berada di Kabupaten Lampung Barat. Dari dataran Sekala Brak inilah bangsa Lampung menyebar ke setiap penjuru dengan mengikuti aliran Way atau sungai-sungai yaitu way komering, way kanan, way semangka, way seputih, way sekampung dan way tulang bawang beserta anak sungainya, sehingga meliputi dataran Lampung dan Palembang serta Pantai Banten.

Sekala Brak memiliki makna yang dalam dan sangat penting bagi bangsa Lampung. Ia melambangkan peradaban, kebudayaan dan eksistensi Lampung itu sendiri. Bukti tentang kemasyuran kerajaan Sekala Brak didapat dari cerita turun temurun yang disebut warahan, warisan kebudayaan, adat istiadat, keahlian serta benda dan situs seperti tambo dan dalung seperti yang terdapat di Kenali, Batu Brak dan Sukau. Kata LAMPUNG sendiri berawal dari kata "Anjak Lambung" yang berarti berasal dari ketinggian (Diandra Natakembahang:2005) ini karena para puyang Bangsa Lampung pertama kali bermukim menempati dataran tinggi Sekala Brak di lereng Gunung Pesagi. Sebagaimana I Tshing yang pernah mengunjungi Sekala Brak setelah kunjungannya dari Sriwijaya dan beliau menyebut To-Langpohwang bagi penghuni negeri ini. Dalam bahasa hokkian, dialek yang dipertuturkan I Tshing, To-Langpohwang berarti Orang Atas dan seperti diketahui Pesagi dan dataran tinggi Sekala Brak adalah puncak tertinggi di Tanoh Lampung.

Ada beberapa teori tentang etimologi Sekala Brak (Diandra Natakembahang:2005), yaitu:

  • Sakala Bhra yang berarti titisan dewa (terkait dengan Kerajaan Sekala Brak Hindu)
  • Segara Brak yang berarti genangan air yang luas (diketahui sebagai Danau Ranau)
  • Sekala Brak yang berarti tumbuhan sekala dalam jumlah yang banyak dan luas (tumbuhan ini banyak terdapat di Pesagi dan dataran tingginya)

IV. PENDAPAT SEJARAWAN DAN CATATAN TENTANG SEKALA BRAK

DIANDRA TAURUSSIAWAN PUTRA NATAKEMBAHANG

Tafsiran para ahli purbakala seperti Groenevelt, L.C.Westernenk dan Hellfich didalam menghubungkan bukti bukti memiliki pendapat yang berbeda beda namun secara garis besar didapat benang merah kesamaan dan acuan yang tidak diragukan didalam menganalisa bahwa Sekala Brak merupakan cikal bakal bangsa Lampung.

Dalam buku The History of Sumatra karya The Secretary to the President and the Council of Port Marlborough Bengkulu, William Marsdn, 1779, diketahui asal-usul Penduduk Asli Lampung. Didalam bukunya William Marsdn mengungkapkan "If you ask the Lampoon people of these part, where originally comme from they answere, from the hills, and point out an island place near the great lake whence, the oey, their forefather emigrated…". "Apabila tuan-tuan menanyakan kepada Masyarakat Lampung tentang dari mana mereka berasal, mereka akan menjawab dari dataran tinggi dan menunjuk ke arah Gunung yang tinggi dan sebuah Danau yang luas.."

Dari tulisan ini bisa disimpulkan bahwa yang dimaksud danau tersebut ialah Danau Ranau. Sedangkan Gunung yang berada dekat Danau adalah Gunung Pesagi, Sebagaimana juga ditulis Zawawi Kamil (Menggali Babad & Sedjarah Lampung) disebutkan dalam sajak dialek Komering/Minanga: "Adat lembaga sai ti pakaisa buasal jak Belasa Kapampang, Sajaman rik tanoh pagaruyung pemerintah bunda kandung, Cakak di Gunung Pesagi rogoh di Sekala Berak, Sangon kok turun temurun jak ninik puyang paija, Cambai urai ti usung dilom adat pusako" Terjemahannya berarti "Adat Lembaga yang digunakan ini berasal dari Belasa Kepampang (Nangka Bercabang), Sezaman dengan ranah pagaruyung pemerintah bundo kandung, Naik di Gunung Pesagi turun di Sekala Berak, Memang sudah turun temurun dari nenek moyang dahulu, Sirih pinang dibawa di dalam adat pusaka, Kalau tidak pandai tata tertib tanda tidak berbangsa".

Dalam catatan Kitab Tiongkok kuno yang disalin oleh Groenevelt kedalam bahasa Inggris bahwa antara tahun 454 dan 464 Masehi disebutkan kisah sebuah Kerajaan Kendali yang terletak diantara pulau Jawa dan Kamboja. Prof. Wang Gungwu dalam majalah ilmiah Journal of Malayan Branch of the Royal Asiatic Society dengan lebih spesifik menyebutkan bahwa pada tahun tahun 441, 455, 502, 518, 520, 560 dan 563 yang mulia Sapanalanlinda dari Negeri Kendali mengirimkan utusannya ke Negeri Cina. Menurut L.C. Westenenk nama Kendali ini dapat kita hubungkan dengan Kenali Ibukota Kecamatan Belalau sekarang. Nama Sapalananlinda itu menurut kupasan dari beberapa ahli sejarah, dikarenakan berhubung lidah bangsa Tiongkok tidak fasih melafaskan kata Sribaginda, ini berarti Sapanalanlinda bukanlah suatu nama.

Hal diatas membuktikan bahwa pada abad ke 3 telah berdiri Kerajaan Sekala Brak Kuno yang belum diketahui secara pasti kapan mulai berdirinya. Kerajaan Sekala Brak ini dihuni oleh Buay Tumi dengan Ibu Negeri Kenali dan Agama resminya adalah Hindu Bairawa. Hal ini dibuktikan dengan adanya Batu Kepampang di Kenali yang fungsinya adalah sebagai alat untuk mengeksekusi Pemuda dan Pemudi yang tampan dan cantik sebagai tumbal dan persembahan untuk para Dewa.

Kerajaan Sekala Brak menjalin kerjasama perdagangan antar pulau dengan Kerajaan Kerajaan lain di Nusantara dan bahkan dengan India dan Negeri Cina. Prof. Olivier W. Wolters dari Universitas Cornell, dalam bukunya Early Indonesian Commerce, Cornell University Press, Ithaca, New York, 1967, hal. 160, mengatakan bahwa ada dua kerajaan di Asia Tenggara yang mengembangkan perdagangan dengan Cina pada abad 5 dan 6 yaitu Kendali di Andalas dan Ho-lo-tan di Jawa. Dalam catatan Dinasti Liang (502-556) disebutkan tentang letak Kerajaan Sekala Brak yang ada di Selatan Andalas dan menghadap kearah Samudra India, Adat Istiadatnya sama dengan Bangsa Kamboja dan Siam, Negeri ini menghasilkan pakaian yang berbunga, kapas, pinang, kapur barus dan damar.

Dari Prasasti Hujung Langit (Hara Kuning) bertarikh 9 Margasira 919 Caka yang di temukan di Bunuk Tenuar Liwa terpahat nama raja di daerah Lampung yang pertama kali ditemukan pada prasasti. Prasasti ini terkait dengan Kerajaan Sekala Brak kuno yang masih dikuasai oleh Buay Tumi. Prof. Dr. Louis-Charles Damais dalam buku Epigrafi dan Sejarah Nusantara yang diterbitkan oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Jakarta, 1995, halaman 26-45, diketahui nama Raja yang mengeluarkan prasasti ini tercantum pada baris ke-7, menurut pembacaan Prof. Damais namanya adalah Baginda Sri Haridewa.

Lebih jauh lagi Sekala Brak Hindu adalah juga merupakan cikal bakal Sriwijaya, dimana saat persebaran awal dimulai dari dataran tinggi Pesagi dan Danau Ranau satu kelompok menuju keselatan menyusuri dataran Lampung dan kelompok yang lain menuju kearah utara menuju dataran palembang (Van Royen:1927). Bahkan seorang keturunan dari Sekala Brak Hindu adalah merupakan Pendiri dari Dinasti Sriwijaya adalah Dapunta Hyang Sri Jayanaga yang memulai Dinasti Sriwijaya awal dengan ibu negeri Minanga Komering (Arlan Ismail:2003).

Berdasarkan Warahan dan Sejarah yang disusun didalam Tambo, dataran Sekala Brak yang pada awalnya dihuni oleh suku bangsa Tumi ini mengagungkan sebuah pohon yang bernama Belasa Kepampang atau nangka bercabang karena pohonnya memiliki dua cabang besar, yang satunya nangka dan satunya lagi adalah sebukau yaitu sejenis kayu yang bergetah. Keistimewaan Belasa Kepampang ini bila terkena cabang kayu sebukau akan dapat menimbulkan penyakit koreng atau penyakit kulit lainnya, namun jika terkena getah cabang nangka penyakit tersebut dapat disembuhkan. Karena keanehan inilah maka Belasa Kepampang ini diagungkan oleh suku bangsa Tumi.

V. BERDIRINYA KEPAKSIAN SEKALA BRAK

DIANDRA TAURUSSIAWAN PUTRA NATAKEMBAHANG

Diriwayatkan didalam Tambo empat orang Putera Raja Pagaruyung Umpu Ngegalang Paksi tiba di Sekala Brak untuk menyebarkan agama Islam. Fase ini merupakan bagian terpenting dari eksistensi masyarakat Lampung. Dengan kedatangan Keempat Umpu ini maka merupakan kemunduran dari Kerajaan Sekala Brak Kuno atau Buay Tumi yang merupakan penganut Hindu Bairawa/Animisme dan sekaligus merupakan tonggak berdirinya Kepaksian Sekala Brak atau Paksi Pak Sekala Brak yang berasaskan Islam. Keempat Putera Umpu Ngegalang Paksi yang merupakan pendiri dan penguasa masing masing adalah:
  1. Umpu Bejalan Di Way
  2. Umpu Belunguh.
  3. Umpu Nyerupa.
  4. Umpu Pernong.
Umpu berasal dari kata Ampu seperti yang tertulis pada batu tulis di Pagaruyung yang bertarikh 1358 A.D. Ampu Tuan adalah sebutan Bagi anak Raja Raja Pagaruyung Minangkabau. Setibanya di Sekala Brak keempat Umpu bertemu dengan seorang Muli yang ikut menyertai para Umpu dia adalah Si Bulan. Di Sekala Brak keempat Umpu tersebut mendirikan suatu perserikatan yang dinamai Paksi Pak yang berarti Empat Serangkai atau Empat Sepakat.

Setelah perserikatan ini cukup kuat maka suku bangsa Tumi dapat ditaklukkan dan sejak itu berkembanglah agama Islam di Sekala Brak. Pemimpin Buay Tumi dari Kerajaan Sekala Brak saat itu adalah seorang wanita yang bernama Ratu Sekerumong yang pada akhirnya dapat ditaklukkan oleh Perserikatan Paksi Pak. Sedangkan penduduk yang belum memeluk agama Islam melarikan diri ke Pesisir Krui dan terus menyeberang ke pulau Jawa dan sebagian lagi ke daerah Palembang. Raja terakhir dari Buay Tumi Sekala Brak adalah Kekuk Suik dengan wilayah kekuasaannya yang terakhir di Pesisir Selatan Krui -Tanjung Cina.

Dataran Sekala Brak akhirnya dikuasai oleh keempat Umpu yang disertai Si Bulan, Maka Sekala Brak kemudian diperintah oleh keempat Umpu dengan menggunakan nama PAKSI PAK SEKALA BRAK. Inilah cikal bakal Kepaksian Sekala Brak yang merupakan puyang bangsa Lampung. Kepaksian Sekala Brak mereka bagi menjadi empat Marga atau Kebuayan yaitu:
  1. Umpu Bejalan Di Way memerintah daerah Kembahang dan Balik Bukit dengan Ibu Negeri Puncak, daerah ini disebut dengan Paksi Buay Bejalan Di Way.
  2. Umpu Belunguh memerintah daerah Belalau dengan Ibu Negerinya Kenali, daerah ini disebut dengan Paksi Buay Belunguh.
  3. Umpu Nyerupa memerintah daerah Sukau dengan Ibu Negeri Tapak Siring, daerah ini disebut dengan Paksi Buay Nyerupa.
  4. Umpu Pernong memerintah daerah Batu Brak dengan Ibu Negeri Hanibung, daerah ini disebut dengan Paksi Buay Pernong.
Suku bangsa Tumi yang lari kedaerah Pesisir Krui menempati marga marga Punggawa Lima yaitu Marga Pidada, Marga Bandar, Marga Laai dan Marga Way Sindi namun kemudian dapat ditaklukkan oleh Lemia Ralang Pantang yang datang dari daerah Danau Ranau dengan bantuan lima orang punggawa dari Paksi Pak Sekala Brak. Dari kelima orang punggawa inilah nama daerah ini disebut dengan Punggawa Lima karena kelima punggawa ini hidup menetap pada daerah yang telah ditaklukkannya.

Agar syiar agama Islam tidak mendapatkan hambatan maka pohon Belasa Kepampang itu akhirnya ditebang untuk kemudian dibuat PEPADUN. Pepadun adalah singgasana yang hanya dapat digunakan atau diduduki pada saat penobatan SAIBATIN Raja Raja dari Paksi Pak Sekala Brak serta keturunan keturunannya. Dengan ditebangnya pohon Belasa Kepampang ini merupakan pertanda jatuhnya kekuasaan suku bangsa Tumi sekaligus hilangnya faham animisme di kerajaan Sekala Brak. Sekitar awal abad ke 9 Masehi para Saibatin di Sekala Brak menciptakan aksara dan angka tersendiri sebagai Aksara Lampung yang dikenal dengan Had Lampung.

Ada dua makna didalam mengartikan kata Pepadun yaitu:
  1. Dimaknakan sebagai PAPADUN yang maksudnya untuk memadukan pengesahan atau pengakuan untuk mentahbiskan bahwa yang duduk diatasnya adalah Raja.
  2. Dimaknakan sebagai PAADUAN yang berarti tempat mengadukan suatu hal ihwal. Maka jelaslah bahwa mereka yang duduk diatasnya adalah tempat orang mengadukan suatu hal atau yang berhak memberikan keputusan.
Ini jelas bahwa fungsi Pepadun hanya diperuntukkan bagi Raja Raja yang memerintah di Sekala Brak. Atas mufakat dari keempat Paksi maka Pepadun tersebut dipercayakan kepada seseorang yang bernama Benyata untuk menyimpan, serta ditunjuk sebagai bendahara Pekon Luas, Paksi Buay Belunguh dan kepadanya diberikan gelar Raja secara turun temurun.

Manakala salah seorang dari keempat Umpu dan keturunannya memerlukan Pepadun tersebut untuk menobatkan salah satu keturunannya maka Pepadun itu dapat diambil atau dipinjam yang setelah digunakan harus dikembalikan. Adanya bendahara yang dipercayakan kepada Benyata semata mata untuk menghindari perebutan atau perselisihan diantara keturunan keturunan Paksi Pak Sekala Brak dikemudian hari.

Pada Tahun 1939 terjadi perselisihan diantara keturunan Benyata memperebutkan keturunan yang tertua atau yang berhak menyimpan Pepadun. Maka atas keputusan kerapatan adat dengan persetujuan Paksi Pak Sekala Brak dan Keresidenan, Pepadun tersebut disimpan dirumah keturunan yang lurus dari Umpu Belunguh hingga sekarang.

VI. PERPINDAHAN WARGA NEGERI SEKALA BRAK

DIANDRA TAURUSSIAWAN PUTRA NATAKEMBAHANG

Seperti yang telah diuraikan sebelumnya semua suku bangsa Lampung, baik yang berada di daerah Lampung, Palembang, dan Pantai Banten berpengakuan berasal dari Sekala Brak. Perpindahan Warga Negeri Sekala Brak ini bukannya sekaligus melainkan bertahap dari waktu ke waktu yang dipengaruhi oleh beberapa peristiwa penting didalam sejarah seperti:
  1. Ketika suku bangsa Tumi yang mendiami Sekala Brak terusir dan Skala Brak jatuh ketangan Paksi Pak Sekala Brak, hingga mereka menyebar kedaerah lain.
  2. Perselisihan dan silang sengketa dikalangan keluarga yang mengakibatkan satu fihak meninggalkan Sekala Brak untuk mencari penghidupan ditempat lain.
  3. Adanya bencana alam berupa gempa bumi yang memaksa sebagian Warga Negeri Sekala Brak untuk berpindah dan mencari penghidupan yang baru.
  4. Adanya hubungan yang erat antara Kesultanan Banten dan Kebuayan Belunguh -Kenali, dimana dengan sengaja ditinggalkan disepanjang jalan beberapa orang suami istri untuk meluaskan daerah dan memudahkan perjalanan pulang pergi ke Banten. Sehingga berabad kemudian ditempat itu berdiri Pekon Pekon bahkan banyak yang sudah menjadi Marga. Hubungan inilah yang merupakan asal dari Cikoneng Pak Pekon di Pantai Banten.
  5. Perpindahan juga terjadi disebabkan peraturan adat yang mengikat yang menetapkan semua hak hak adat jatuh atau diwarisi oleh Putera Tertua, sehingga anak anak yang muda dipastikan tidak sepenuhnya memiliki hak apalagi kedudukan tertentu didalam adat. Dengan cara memilih untuk pindah kedaerah yang baru maka dapat dipastikan mereka memiliki kedudukan dan tingkatan didalam adat yang mereka bentuk sendiri ditempat yang baru.

VII. KETETAPAN ADAT DALAM PEPADUN DAN HIRARKI ADAT DALAM KEPAKSIAN

DIANDRA TAURUSSIAWAN PUTRA NATAKEMBAHANG

Seperti telah diterangkan terdahulu Pepadun dibuat dari Belasa Kepampang yang dibuat sedemikian rupa menjadi singgasana tempat bertahtanya Raja yang dinobatkan di Paksi Pak Sekala Brak. Ketetapan adat bahwa hanya keturunan yang lurus dan tersulung dari Paksi Pak Sekala Brak yang berhak untuk dapat duduk diatas Pepadun itu dalam gawi penobatan Raja sebagai Saibatin. Dengan demikian adat Pepadun seperti yang terdapat di daerah Lampung lainnya tidak seperti daerah asalnya di Sekala Brak.

Pertimbangan untuk menaikkan atau menurunkan pangkat adat seseorang dilakukan dalam permufakatan sidang adat dengan memperhatikan kesetiaan seseorang kepada garis dan aturan adat. Jika seseorang dinilai telah memenuhi syarat dan mematuhi garis, ketentuan dan aturan adat, untuk seterusnya keturunannya dapat dipertimbangkan untuk dinaikkan setingkat pangkat adatnya. Namun jika yang terjadi sebaliknya kemungkinan untuk keturunannya pangkat adat itu tetap atau bahkan diturunkan.

Pertimbangan yang kedua untuk menaikkan pangkat adat seseorang adalah dengan melihat jumlah bawahan dari seseorang yang akan dinaikkan pangkat adatnya. Seseorang yang yang menyandang pangkat adat atau Gelaran yang disebut ADOK harus memiliki bawahan yang berbanding dengan kedudukan pangkat adatnya.

Tingkatan tertinggi dalam adat adalah Saibatin Suntan. Untuk dapat mencapai Gelaran atau Adok dan kedudukan atau pangkat adat ditentukan oleh berapa banyak bawahan atau pengikut dari seseorang. Hirarki Adat dalam Kepaksian Sekala Brak dari yang tertinggi sampai yang terendah adalah:

  1. Suntan
  2. Raja
  3. Batin
  4. Radin
  5. Minak
  6. Kemas
  7. Mas

Petutughan atau panggilan dalam Masyarakat Adat Lampung adalah berdasarkan hirarki seseorang didalam adat. Untuk panggilan kakak adalah Pun dan Ghatu untuk Suntan, Atin untuk Raja, Udo Dang dan Cik Wo untuk Batin, Udo dan Wo untuk Radin, Udo Ngah dan Cik Ngah untuk Minak, Abang dan Ngah untuk Mas serta kakak untuk Kemas. Sedangkan panggilan untuk orang tua adalah Akan dan Ina Dalom untuk Suntan, Aki dan Ina Batin untuk Raja, Ayah dan Ina Batin untuk Batin sedangkan untuk Radin, Mas dan Kimas menggunakan panggilan Mak dan Bak. Panggilan kepada setingkat panggilan orang tua seperti paman dan bibi adalah; Pak Dalom dan Ina Dalom untuk Suntan, Pak Batin dan Ina Batin untuk Raja, Tuan Tengah- dan Cik Tengah untuk Batin, Pak Balak dan Ina Balak untuk Radin, Pak Ngah dan Mak Ngah untuk Minak, Pak Lunik dan Ina Lunik untuk Mas serta Pak Cik dan Mak Cik untuk Kemas. Panggilan untuk kakek-nenek adalah Tamong Dalom dan Kajong Dalom untuk setingkat Suntan, Tamong Batin dan Kajong Batin untuk setingkat Raja dan Batin sedangkan untuk Radin, Minak, Mas dan Kemas menggunakan panggilan Tamong dan Kajong saja.

Gelaran atau Adok -DALOM, SUNTAN, RAJA, RATU, panggilan seperti PUN dan SAIBATIN serta nama LAMBAN GEDUNG hanya diperuntukkan bagi Saibatin dan keluarganya dan dilarang dipakai oleh orang lain. Dalam garis dan peraturan adat tidak terdapat kemungkinan untuk membeli Pangkat Adat, baik dengan Cakak Pepadun atau dengan cara cara lainnya terutama di dataran Skala Brak sebagai warisan resmi dari kerajaan Paksi Pak Sekala Brak.

Tentang kepangkatan seseorang dalam adat tidaklah dapat dinilai dari materi dan kekuatan yang dapat menaikkan kedudukan seseorang didalam lingkungan adat, melainkan ditentukan oleh asal, akhlak dan banyaknya pengikut seseorang dalam lingkungan adat. Bilamana ketiganya terpenuhi maka kedudukan seseorang didalam adat tidak perlu dibeli dengan harta benda atau diminta dan akan dianugerahkan dengan sendirinya.

Kesempatan untuk menaikkan kedudukan seseorang didalam adat dapat pula dilaksanakan pada acara Nayuh atau Pernikahan, Khitanan dan lain lain. Pengumuman untuk Kenaikan Pangkat ini, dilaksanakan dengan upacara yang lazim menurut adat diantara khalayak dengan penuh khidmat diiringi alunan bunyi Canang disertai bahasa Perwatin yang halus dan memiliki arti yang dalam.

Bahasa Perwatin adalah ragam bahasa yang teratur, tersusun yang berkaitan dengan indah dan senantiasa memiliki makna yang anggun, ragam bahasa ini lazim digunakan dilingkungan adat dan terhadap orang yang dituakan atau dihormati. Sedangkan Bahasa Merwatin adalah ragam bahasa pasaran yang biasa digunakan sehari hari yang dalam perkembangannya banyak dipengaruhi oleh bahasa bahasa lain.

Prosesi kenaikan seseorang didalam adat dihadiri oleh Saibatin Suntan atau Perwakilan yang ditunjuk beserta para Saibatin dan Pembesar lainnya. Dari rangkaian kata kata dalam bentuk syair dapat disimak ungkapan “Canang Sai Pungguk Ghayu Ya Mibogh Di Dunia Sapa Ngeliak Ya Nigham Sapa Nengis Ya Hila”

Terjemahannya bebasnya bermakna “Bunyi Gong Laksana Suara Pungguk Yang Syahdu Merayu, Gemanya Terdengar Keseluruh Dunia, Siapa Yang Melihat Ia Terkesima Dan Rindu, Siapa Yang Mendengarnya Ia Akan Terharu”. Ini bermakna bahwa pengumuman kenaikan kedudukan seseorang didalam adat telah diumumkan secara resmi.

Tentang adanya penggunaan Pepadun di daerah Lampung lainnya dimana kedudukan didalam adat itu dapat dibeli atau menaikkan kedudukan didalam adat dengan mengadakan Bimbang Besar. Cakak Pepadun di wilayah ini dapat dianalisa awal pelaksanaannya sebagai berikut –Warga Negeri yang memiliki hubungan genealogis dari salah satu Paksi Pak Sekala Brak dan beberapa kelompok pendatang dari daerah lain yang menempati wilayah yang baru ini tentu jauh dari pengaruh Saibatin serta Garis, Peraturan, dan Ketentuan adat yang berlaku dan mengikat.

Ditempat yang baru ini tentu dengan sendirinya harus ada Pemimpin dan Panutan yang ditaati oleh kelompok kelompok ditempat baru itu untuk membentuk suatu komunitas baru dan orang yang dipilih sebagai Pimpinan Komunitas ini dipastikan orang yang meiliki kekayaan dan kekuatan untuk dapat melindungi komunitasnya. Karenanya pada daerah Lampung tertentu dapat saja seseorang yang tidak memiliki trah bangsawan mengangkat dirinya menjadi pemimpin atau kepala adat dengan kompensasi tertentu.

Cara cara pengangkatan diri ini mengambil contoh penobatan Saibatin Raja dari daerah asalnya Paksi Pak Sekala Brak, pada masa berikutnya peristiwa Cakak Pepadun telah menjadi kebiasaan dan diteruskan sampai sekarang. Di wilayah baru ini rupanya tidak ada larangan tentang Pangkat Adat dengan melihat kenyataan yang ada bahwa Gelaran Gelaran atau Adok yang Sakral dan dipegang teguh di Paksi Pak Sekala Brak ternyata bahkan menjadi suatu gelaran umum di daerah ini.

Setelah soal naik Pepadun dengan tidak ada dasar ini menjadi suatu perlombaan yang hebat dikalangan khalayak, kesempatan ini digunakan oleh pasa penyimbang untuk mencari kekayaan dan setelah itu meningkat sedemikian rupa hingga mendatangkan kerugian yang besar bagi khalayak didalam mengadakan Bimbang Besar. Keadaan ini dimanfaatkan oleh Pemerintah Belanda dengan memfasilitasi tindakan tindakan kearah ini.

Pada zaman imperialis hal ini dimanfaatkan oleh kaum imperialis dengan memecah belah Bangsa Lampung sehingga perbedaan yang ada digunakan sebagai umpan untuk memperuncing pertentangan diantara Bangsa Lampung sendiri terutama didalam Adat. Belanda menggantikan kedudukan Raja dengan kedudukan sebagai Pesirah. Bentuk pemerintahan yang tadinya dijalankan dalam tatanan kemurnian dan keluhuran Adat perlahan diarahkan untuk mengikuti kepentingan Belanda.